Lewati ke konten utama
Perawatan

Di Balik Suara Cucak Ijo, Ada Cerita Panjang Para Penghobi Menjaga Performanya

Di balik kicauan nyaring dan gaya tarung khas Cucak Ijo di arena lomba, ada rutinitas perawatan penuh ketelatenan dan ikatan emosional mendalam para kicaumania.

Redaksi AKARMERA 7 menit baca
Di Balik Suara Cucak Ijo, Ada Cerita Panjang Para Penghobi Menjaga Performanya

Bagikan

Facebook X WhatsApp

Pagi itu, di sebuah halaman rumah di pinggiran kota, suara kicauan memecah keheningan. Sebuah sangkar digantung di bawah atap teras, sesekali berayun pelan tertiup angin. Di dalamnya, seekor burung berbulu hijau daun tampak waspada. Matanya mengamati sekitar, paruhnya sedikit terbuka, lalu melontarkan rangkaian suara yang nyaring dan patah-patah. Itulah Cucak Ijo, burung yang belakangan semakin akrab di telinga para penghobi burung kicau di Indonesia.

Pemandangan seperti ini bukan hal asing lagi. Di berbagai kota, dari halaman rumah hingga arena lomba, Cucak Ijo hadir sebagai salah satu primadona. Bukan hanya karena suaranya, tetapi juga karena karakter dan penampilannya yang khas. Warna hijau terangnya, dengan sentuhan kuning di sekitar mata dan noktah biru di dagu, membuat burung ini mudah dikenali bahkan oleh mereka yang baru terjun ke dunia kicau.

Popularitas Cucak Ijo tidak lepas dari posisinya di dunia perlombaan. Dalam berbagai even, kelas Cucak Ijo kerap menjadi salah satu yang paling ditunggu. Mulai dari gelaran lokal hingga kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah, burung ini punya tempat tersendiri. Tapi apa sebenarnya yang membuat Cucak Ijo begitu melekat di hati para penghobi? Mengapa burung ini mampu mempertahankan posisinya di tengah persaingan berbagai jenis burung kicau lainnya?

Mengapa Cucak Ijo Begitu Menarik bagi Penghobi?

Bagi banyak penghobi, daya tarik Cucak Ijo terletak pada suaranya. Kicauannya yang nyaring dan bervariasi, dengan karakter patah-patah yang khas, menjadi nilai jual utama. Kemampuan menirukan suara burung lain juga menjadi poin plus. “Cucak ijo ini harus banyak mendengar suara burung lainnya agar bisa ditirukan. Istilahnya masteran. Makin banyak variasinya, ya makin baik,” ujar Arinto Julianta, seorang penghobi asal Solo yang telah lama menekuni burung ini.

Namun, suara bukan satu-satunya alasan. Penampilan fisik Cucak Ijo juga punya magnet tersendiri. Burung dengan nama ilmiah Chloropsis sonnerati ini memiliki tubuh sedang, dengan panjang sekitar 18–22 cm. Warna hijau yang mendominasi tubuhnya memberi kesan segar dan alami. Burung jantan memiliki tenggorokan berwarna hijau, sedangkan betina berwarna kuning—sebuah perbedaan yang cukup jelas untuk membedakan jenis kelamin.

Yang tak kalah menarik adalah karakter Cucak Ijo. Burung ini dikenal agresif terhadap burung lain yang berukuran lebih kecil, dan memiliki gaya tarung yang khas saat berada di arena. Jambulnya yang menjigrik saat ngetrok menjadi nilai tambah, terutama untuk varian dari Jawa Timur seperti Jember dan Banyuwangi. Bagi sebagian penghobi, kombinasi antara suara, penampilan, dan karakter inilah yang membuat Cucak Ijo terasa berbeda dari burung kicau lainnya.

Di Balik Perawatan, Ada Rutinitas yang Tidak Sederhana

Merawat Cucak Ijo bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil lalu. Di balik penampilannya yang memukau, ada rutinitas yang menuntut konsistensi dan ketelatenan. Para penghobi yang sudah lama menekuni burung ini biasanya memiliki pola perawatan yang terstruktur, meskipun detailnya bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain.

Salah satu aspek yang sering menjadi perhatian adalah mandi. Bayong, penghobi asal Turen, Malang, yang telah menekuni Cucak Ijo selama lebih dari 23 tahun, menekankan pentingnya pola mandi yang teratur. Menurutnya, burung yang sudah mau mandi sendiri menandakan suhu tubuhnya panas sehingga perlu dimandikan pagi dan sore hari.

Penjemuran juga menjadi bagian penting dari rutinitas. Cucak Ijo dikenal sebagai burung yang menyukai cahaya. Arinto menyebut bahwa burung ini “nggak bisa gelap” dan cenderung stres jika ditempatkan di ruangan yang kurang pencahayaan. Karena itu, penjemuran di pagi hari menjadi momen yang tidak boleh dilewatkan.

Untuk pakan, variasi menjadi kunci. Selain voer sebagai pakan utama, penghobi biasanya memberikan extra fooding seperti jangkrik, kroto, dan ulat hongkong. Buah-buahan seperti pepaya dan pisang juga menjadi menu rutin. Arinto, misalnya, memberikan pepaya untuk melancarkan pencernaan dan pisang untuk membuat burung merasa kenyang. Bayong memiliki pendekatan yang lebih terukur: satu ekor jangkrik di pagi hari dan dua ekor di sore hari, untuk menghindari over birahi.

Istirahat dan pemantauan kondisi burung juga tidak bisa diabaikan. Cucak Ijo yang stres atau kurang istirahat bisa menunjukkan perilaku yang tidak diinginkan, seperti salto atau kehilangan performa. Karena itu, penghobi yang berpengalaman biasanya mengamati perubahan kecil pada perilaku burung mereka dan menyesuaikan perawatan dengan kondisi masing-masing burung.

Ketika Cucak Ijo Dibawa ke Arena Lomba

Bagi sebagian penghobi, puncak dari segala usaha adalah membawa Cucak Ijo ke arena lomba. Di sana, burung tidak hanya dituntut untuk bersuara, tetapi juga menunjukkan mental dan stamina yang prima. Persiapan menjelang lomba biasanya dilakukan dengan cermat, mulai dari pengaturan pakan hingga latihan mental.

Settingan menjelang lomba menjadi bagian yang cukup rumit. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pemberian kroto di H-7, pemasteran setelah mandi di H-6, dan penambahan jangkrik di H-5 bisa membantu mempersiapkan burung untuk tampil maksimal. Namun, setiap burung memiliki karakter yang berbeda, sehingga tidak ada formula yang bisa diterapkan secara universal.

Di arena, tantangan sesungguhnya adalah menjaga mental burung. Cucak Ijo yang tampak garang di rumah belum tentu menunjukkan performa yang sama saat berada di gantangan. Ada yang tiba-tiba “gembos”, ada juga yang hanya ngeriwik tanpa mau membongkar materi. Kondisi ini tentu membuat pemiliknya kecewa. Karena itu, banyak penghobi yang melakukan uji coba setting di rumah untuk menemukan formula yang tepat sebelum benar-benar membawa burung ke lomba.

Lomba burung berkicau seperti Kapolres Cup di Magetan, yang mempertemukan sekitar 350 peserta, menunjukkan bahwa dunia perlombaan Cucak Ijo masih hidup dan bergairah. Even seperti ini tidak hanya menjadi ajang adu kualitas burung, tetapi juga menjadi tempat bertemunya komunitas kicau mania dari berbagai daerah.

Cerita Penghobi di Balik Seekor Cucak Ijo

Di balik setiap Cucak Ijo yang tampil memukau, ada cerita tentang ketekunan dan hubungan yang terbentuk antara burung dan pemiliknya. Mamad Kopling, warga Kampung Cemani Baru, Sukoharjo, adalah salah satu penghobi yang telah merasakan bagaimana perawatan yang konsisten bisa mengubah seekor burung bahan menjadi langganan juara.

Mamad memiliki dua Cucak Ijo andalan yang diberi nama Ampera dan Amfibi. Keduanya dibeli dari bahan, bukan burung jadi. “Cucak ijo ini harus banyak mendengar suara burung lainnya agar bisa ditirukan,” ujarnya. Ia rutin melakukan pemasteran dengan burung-burung seperti kinoi, kacer, dan cendet. Proses ini tidak selalu mudah. Ada burung yang cepat menirukan suara masteran, ada pula yang butuh waktu lebih lama.

Salah satu kunci keberhasilan Mamad adalah konsistensi. Ia memandikan burungnya dengan cara menyemprotkan air pada pagi hari sebelum proses jemur. Ini dilakukan setiap hari sampai burung benar-benar lulut. “Nanti kalau sudah lulut, memandikannya cukup sediakan bejana isi air. Biar burungnya mandi sendiri waktu dijemur,” terangnya.

Perhatian pada detail kecil juga menjadi bagian dari keseharian Mamad. Ia memastikan posisi kandang memiliki pencahayaan yang cukup, karena Cucak Ijo yang dipelihara senang dalam keadaan terang. “Kalau sampai gelap lalu secara tidak sengaja kandangnya tersenggol, burung bisa nglabak. Kalau sudah seperti itu rawan stres, tidak mau berkicau, dan yang terparah bisa nggak mau makan lalu mati lemas,” bebernya.

Hasil dari ketekunan itu terlihat dari pencapaian Ampera dan Amfibi. Ampera telah memenangi lebih dari seribu trofi juara, sementara Amfibi baru sekitar seratusan. Dari awal membeli dengan harga Rp 1,5 juta, Ampera kini sudah ditawar Rp 25 juta. “Cuma belum saya lepas karena sayang,” pungkasnya.

Cucak Ijo Bukan Sekadar Soal Suara

Memelihara Cucak Ijo, pada akhirnya, bukan hanya tentang mengejar gacor atau juara. Bagi banyak orang, hobi ini telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan komunitas. Lomba burung, seperti yang digelar di Magetan, bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ajang silaturahmi. Kapolres Magetan, AKBP Raden Erik Bangun Prakasa, menyebut bahwa komunitas burung berkicau memiliki anggota yang cukup banyak, dan melalui kegiatan seperti ini mereka bisa berkumpul dan bersilaturahmi.

Bagi sebagian penghobi, Cucak Ijo menjadi teman sehari-hari. Suara kicauannya mengisi pagi, menjadi latar belakang aktivitas, dan kadang menjadi alasan untuk bangun lebih awal. Ada kepuasan tersendiri melihat burung yang awalnya giras perlahan menjadi jinak, yang awalnya hanya ngeriwik kemudian berani membongkar materi. Proses itu tidak instan, dan justru di situlah letak daya tariknya.

Hobi ini juga menjadi sarana untuk belajar tentang kesabaran dan konsistensi. Cucak Ijo yang stres, salto, atau kehilangan performa bukanlah kegagalan yang bisa diselesaikan dalam semalam. Dibutuhkan waktu, pengamatan, dan kadang trial and error untuk menemukan pola perawatan yang tepat. Dalam proses itu, penghobi belajar untuk lebih peka terhadap kebutuhan burung, dan pada saat yang sama, belajar tentang batas antara keinginan dan kebutuhan.

Masa Depan Hobi Cucak Ijo & Aspek Konservasi

Ke depan, komunitas Cucak Ijo di Indonesia tampaknya masih akan terus berkembang. Even-even lomba tetap menjadi magnet, dan minat terhadap burung ini tidak menunjukkan tanda-tanda surut. Namun, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama.

Salah satunya adalah aspek kelestarian. Cucak Ijo adalah burung asli Indonesia yang populasinya di alam mulai mengalami penurunan akibat kerusakan habitat. Meskipun status konservasinya masih tergolong Least Concern menurut IUCN, kesadaran akan pentingnya menjaga populasi di alam tetap perlu ditumbuhkan. Edukasi tentang perawatan yang bertanggung jawab, serta pemahaman tentang aspek legalitas, menjadi bagian penting dari keberlanjutan hobi ini.

Selain itu, regenerasi penghobi juga menjadi tantangan tersendiri. Dunia kicau identik dengan generasi yang lebih senior, tetapi bukan berarti tidak ada ruang bagi yang lebih muda. Komunitas, event, dan platform berbagi pengalaman bisa menjadi jembatan untuk menarik minat generasi baru. Dengan begitu, cerita tentang Cucak Ijo—tentang suara, perawatan, dan manusia di baliknya—akan terus hidup dan diwariskan.

Terkait

Artikel terkait

Ungkap Rahasia Burung Mini di Zaman Dinosaurus
Aerial

Ungkap Rahasia Burung Mini di Zaman Dinosaurus

Fosil burung yang panjangnya kurang dari 5 sentimeter dan beratnya tak lebih dari 8,5 gram ini menjadi salah satu burung terkecil yang diketahui hidup sezaman dengan dinosaurus raksasa seperti Sauropoda.

Redaksi AKARMERA 7 menit baca

Kategori

Lebih banyak dari Perawatan

Lihat kategori